MUSLIMAH MANDIRI DI TENGAH RIUH DUNIA DIGITAL

MUSLIMAH MANDIRI DI TENGAH RIUH DUNIA DIGITAL

Oleh Masitoh Munir

 

Dulu, mandiri mungkin berarti mampu memasak, mencuci, mengatur keuangan, atau melakukan sesuatu tanpa selalu ditemani. Kini, maknanya lebih luas. Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, seorang muslimah juga perlu mampu mengelola informasi, menentukan pilihan, menjaga diri, dan bertanggung jawab atas tindakannya di ruang maya.

Dalam hitungan detik, kita dapat memperoleh berita, belajar, mencari ilmu, berdiskusi, dan menghasilkan karya. Namun, tidak semua yang muncul di layar layak dipercaya, tidak semua yang viral harus diikuti, dan tidak semua yang dilakukan banyak orang perlu kita lakukan. Di sinilah kemandirian seorang muslimah diuji.

Media sosial sering membuat kita membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Muslimah mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Ia tetap mau belajar dari guru, mendengarkan nasihat orang tua, dan menerima masukan. Namun, ia tidak menjadikan tren sebagai penentu hidupnya. Ia mampu berkata, “Tidak semua yang viral harus aku ikuti”.

Teknologi hanyalah alat. Ia dapat menjadi jalan menuju ilmu, tetapi juga pintu menuju kelalaian. Seorang muslimah hendaknya tidak hanya menjadi konsumen dunia digital, tetapi juga pencipta yang memberi manfaat.

Di antara muwashofat seorang muslimah mandiri ialah harishun ‘ala waqtihi, bersungguh-sungguh menjaga waktunya, dan munazzhamun fii syu’uunihi, teratur dalam urusannya.

Muslimah mandiri belajar menentukan prioritas: kapan belajar, beribadah, beristirahat, membantu orang tua, bersosialisasi, dan menggunakan gawai. Ia tidak membiarkan kesibukan menguasai dirinya, tetapi mengaturnya dengan tertib.

Keteraturan melahirkan karakter naafi’un lighairihi, bermanfaat bagi orang lain. Kemandirian bukan sekadar mampu mengurus diri, melainkan juga memiliki kapasitas untuk membantu. Ia dapat berbagi ilmu, membantu keluarga dan teman, membuat konten bermanfaat. Inilah kemandirian sesungguhnya, mampu berdiri dengan baik sehingga dapat menjadi sandaran dan memberi manfaat.

Belajar dari Sosok Mandiri

Asma’ binti Abu Bakar ra., adalah salah satu teladan muslimah yang berani dan tangguh. Saat Rasulullah Saw., dan Abu Bakar ra., berhijrah, Asma turut mempersiapkan kebutuhan perjalanan mereka dalam situasi yang sulit.

Kisahnya mengajarkan bahwa kemandirian bukan keinginan untuk terlihat hebat, melainkan kesediaan mengambil peran demi kebaikan. Hari ini, medan kita berbeda. Kita menghadapi arus informasi, tren, dan pengaruh media sosial. Namun, semangatnya tetap sama: menjadi muslimah yang cerdas, tangguh, dan berprinsip.

Tantangan terbesar era digital bukan teknologi, melainkan kemampuan menjaga diri di tengah banyak pilihan. Tren berganti dan aplikasi terus bermunculan, tetapi seorang muslimah membutuhkan prinsip yang kokoh.

Ilmu membantunya membedakan yang benar dan salah. Iman memberinya arah. Akhlak membimbing sikapnya. Kemandirian membuatnya berani mengambil keputusan, sedangkan keteraturan membantunya menjalankannya secara konsisten.

Maka, jadilah muslimah yang tidak hanya update dengan dunia, tetapi juga upgrade diri. Jadilah haarishah ‘ala waqtiha, munazzhamah fii syu’uunihā, dan naafi’ah li ghairihā—muslimah yang menghargai waktu, teratur, dan membawa manfaat.

Muslimah hebat bukanlah yang paling ramai terlihat di layar, melainkan yang tetap memiliki nilai ketika layar dimatikan. Ketika hadir di tengah manusia, kehadirannya membawa kebaikan dan manfaat.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp