RIYA ‘KHAFIY’ PENYAKIT HATI YANG TERSEMBUNYI

RIYA ‘KHAFIY’ PENYAKIT HATI YANG TERSEMBUNYI

Oleh Amaludin Matangaji

 

Dalam ajaran Islam, keikhlasan merupakan syarat utama diterimanya amal ibadah. Segala bentuk amal perbuatan, ibadah ritual maupun sosial, harus diniatkan semata untuk mencari ridha Allah SWT. Namun, terdapat suatu penyakit hati yang dapat merusak keikhlasan ini, yaitu riya. Riya adalah perbuatan memperlihatkan ibadah atau amal kebaikan kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.

Syekh Ibnu Atthoilah menjelaskan dalam kitabnya Al-Hikam tantang riya khafiy, bahwa “Terkadang masuknya riya dalam amal perbuatanmu itu datang dari arah yang tidak ada orang yang melihat padamu.”

Riya yang masuk dalam perbuatan yang disaksikan oleh orang banyak dinamakan riya jaliy (terang). Selanjutnya riya juga dapat masuk pada perbuatan ketika sendirian dan tidak ada orang yang mengetahuinya, yakni dengan perbuatannya tersebut dia berharap akan disanjung dan dimuliakan orang lain. Contoh sederhananya, jika dia berilmu, dengan ilmunya ia berniat agar orang lain mencukupi haknya atau berniat agar orang lain disiksa oleh Allah SWT, karena tidak menghormatinya. Apabila hal seperti ini ada dalam diri seseorang, tandanya ia telah berbuat riya dengan ilmunya, yang seperti ini dinamakan riya khafiy (samar).

Seseorang tidak akan selamat dari riya jaliy dan riya khafiy kecuali orang yang mengenal Allah SWT. Allah menjaganya dari syirik dan menutup pandangannya dari melihat makhluk sebab keyakinan kepada-Nya, yang bersinar terang dalam hatinya. Seorang yang muraqabatullah (megenal Tuhannya) sudah tidak berharap mendapat manfaat dari orang lain (makhluk) dan tidak takut akan bahaya dari makhluk. Perbuatannya bersih dari riya, meski dikerjakan di depan orang.

Rasulullah SAW bersabda, “Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita.”

Dari hadits tersebut, Ibnu Atthoillah menjabarkan, “Kontribusi hawa nafsu dalam perbuatan maksiat itu sangat jelas dan terang, sedangkan bagian nafsu dalam perbuatan taat (ibadah) itu halus dan samar, untuk mengobati yang samar itu sangat sulit penyembuhannya.”

Perlu diketahui bahwa hawa nafsu akan selalu mengambil peran baik dalam maksiat atau dalam taat (ibadah). Kepentingan nafsu dalam maksiat itu jelas, seperti zina, minum-minuman keras, dia jelas merasakan lezat dan kepuasannya. Karena nafsu mengajak maksiat yang bertujuan merasakan kenikmatan dan kepuasan sehingga akhirnya terjadi bencana dan kehinaan.

Sedangkan bagian nafsu dalam ibadah sangatlah halus dan samar. Karena pada dasarnya semua ibadah selalu bertentangan dengan hawa nafsu, sehingga apabila nafsu memerintahkan untuk ibadah, maka hendaknya seseorang senantiasa waspada dan teliti, apakah ada kepentingan nafsu di dalam ibadah tersebut.

Riya jaliy dan khafiy merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya dalam kehidupan spiritual seorang muslim. Ia dapat menghancurkan pahala amal dan menjerumuskan seseorang dalam syirik kecil. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, dan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala bentuk riya. Amin.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp