
Dari Qurban Menuju Peradaban: Pesan Khutbah Idul Adha di Husnul Khotimah
Suasana penuh khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 H di lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Bertindak sebagai khatib, Ust. Fahmi Syahbudin, S.E.I., M.M., sementara imam sholat dipimpin oleh Ust. Iif Ikhwana, S.Pd.I. Dalam khutbahnya, Ust. Fahmi mengajak jamaah untuk meneladani perjalanan tarbiyah keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai fondasi lahirnya peradaban yang agung.
Mengawali khutbahnya dengan lantunan takbir yang menggugah jiwa, beliau menyampaikan bahwa Idul Adha bukan sekadar momentum penyembelihan hewan qurban, tetapi juga momentum menghadirkan kembali nilai ketaatan dan pengorbanan kepada Allah SWT.
“Kisah keteladanan Nabi Ibrahim pada peristiwa yang Allah perintahkan kita berqurban ini, sejatinya bermula dari suatu kisah,” ungkapnya dalam khutbah.
Beliau kemudian mengisahkan perjalanan Nabi Ibrahim AS yang diuji dengan penantian panjang hadirnya seorang anak hingga usia 86 tahun. Ketika Nabi Ismail lahir, Allah justru memerintahkan Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah yang tandus. Dari kisah tersebut, jamaah diajak memahami makna ketaatan total kepada Allah tanpa syarat.
Salah satu bagian khutbah yang menyentuh adalah ketika Ust. Fahmi menuturkan keyakinan Sayyidah Hajar saat ditinggalkan di tengah padang tandus. Setelah mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah, Hajar berkata, “Jika demikian pergilah, Allah tidak akan menyianyiakan kami.”
Dalam penjelasannya, Ust. Fahmi menyebut bahwa bulan Dzulhijjah sejatinya menghadirkan “tarbiyah a’iliyah” atau pendidikan keluarga. Jika Ramadhan melahirkan tarbiyah pribadi, maka Dzulhijjah mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang taat, sabar, dan penuh pengorbanan.
Beliau menegaskan bahwa Allah tidak hanya menjadikan Nabi Ibrahim sebagai teladan pribadi, tetapi juga bersama keluarganya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 4 tentang uswatun hasanah dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.
Dalam khutbahnya, Ust. Fahmi memaparkan beberapa pilar penting tarbiyah keluarga dari keteladanan Nabi Ibrahim AS, di antaranya ketuntasan ma’rifatullah yang melahirkan sikap ridha dan taat tanpa tapi, pentingnya birrul walidain, membangun keluarga dengan tawakal dan syukur, hingga kesabaran dan keikhlasan dalam mendidik keluarga sepanjang hayat.
Beliau juga menyampaikan bahwa pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim telah melahirkan peradaban besar yang keberkahannya masih dirasakan hingga hari ini. Mulai dari syariat qurban, ibadah haji, air zamzam, hingga lahirnya para nabi dari keturunan beliau.
“Hamba yang ta’at tanpa tapi, patuh tanpa syarat,” demikian salah satu penegasan beliau dalam menutup khutbah tentang sosok Nabi Ibrahim AS.
Khutbah Idul Adha tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jamaah bahwa qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang menyembelih ego, meneguhkan ketaatan, serta membangun keluarga yang kokoh dalam nilai-nilai keimanan dan pengorbanan demi meraih keberkahan hidup dunia dan akhirat.

