
Majelis Taklim Husnul Khotimah Ajak Jamaah Jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum Muhasabah dan Hijrah Menuju Ketaatan
KUNINGAN – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan Majelis Taklim Husnul Khotimah Kuningan yang digelar pada Jumat pagi (10/07) di Masjid Husnul Khotimah Putra, mulai pukul 07.00 WIB. Kegiatan rutin ini dihadiri oleh jamaah bapak-bapak dan ibu-ibu dari lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah serta masyarakat Desa Maniskidul.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan hadrah yang dipimpin oleh H. Nono Sudana, Imam Besar Masjid Maniskidul, sebagai pembuka sekaligus doa bersama. Selanjutnya, Ketua Majelis Taklim Husnul Khotimah, Ustadz Dwinanto Marjoko, S.Pd, menyampaikan sambutan sekaligus mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengambil hikmah dari setiap majelis ilmu.
Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pentingnya bersikap bijak dalam menerima ilmu dan nasihat.
“Jangan melihat siapa yang menyampaikan, tetapi ambillah kebaikan dari apa yang disampaikan. Undzur ma qoola wa la tandzur man qoola.
Memasuki acara inti, tausiah disampaikan oleh Ustadz Iyan Mulyana, M.Pd.I. dengan mengangkat tema “Momentum 1 Muharram: Muhasabah dan Makna Hijrah.” Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah menjadikan datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.
Menurutnya, meskipun umat Islam saat ini hidup hampir 15 abad setelah wafatnya Rasulullah SAW, rasa cinta dan kerinduan kepada beliau harus terus dipupuk melalui amal saleh, mengikuti sunnah, serta menghadiri majelis-majelis ilmu.
“Kita mungkin belum pernah bertemu Rasulullah SAW, tetapi semoga kelak di Yaumul Akhir kita termasuk umat yang memperoleh syafaat beliau. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi justru banyak meninggalkan sunnahnya.”
Beliau juga menjelaskan bahwa setiap langkah menuju majelis ilmu merupakan amal yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
“Majelis ilmu adalah majelis yang dibanggakan Allah di hadapan para malaikat-Nya. Setiap langkah menuju majelis ini, insyaAllah menjadi sebab dihapuskan dosa dan diangkat derajat kita.”
Dalam tausiahnya, Ustadz Iyan mengajak seluruh jamaah menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momen muhasabah, yaitu mengevaluasi kualitas ibadah selama ini.
“Usia kita terus bertambah, tetapi sudah sejauh mana amal yang benar-benar diterima Allah SWT? Semoga meskipun amal kita sederhana, namun dilakukan dengan ikhlas dan istiqomah sehingga bernilai besar di hadapan Allah.”
Beliau juga mengulas sejarah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Dijelaskan bahwa hijrah bukanlah peristiwa yang dilakukan secara spontan, melainkan melalui perencanaan yang matang serta penuh strategi. Rasulullah SAW terlebih dahulu memerintahkan para sahabat untuk berhijrah sebelum beliau sendiri meninggalkan Kota Makkah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ustadz Iyan menegaskan bahwa makna hijrah tidak sebatas berpindah tempat, tetapi lebih luas sebagai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
“Hijrah bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah yang paling utama adalah meninggalkan keburukan menuju ketaatan, memperbaiki iman, akhlak, dan kebiasaan hidup agar semakin dekat kepada Allah SWT.”
Di akhir tausiah, beliau memberikan pesan khusus kepada seluruh jamaah agar terus menjaga keistiqomahan dalam menuntut ilmu agama serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah membiasakan diri dan keluarga untuk menutup aurat sesuai syariat.
“Istiqomahlah menghadiri majelis ilmu. Begitu pula dalam menjaga hijab dan menutup aurat. Semoga bukan hanya ibu-ibu yang istiqomah mengenakan hijab, tetapi juga putri-putrinya, bahkan cucu-cucunya, sehingga lahir generasi yang mencintai syariat Islam.”
Melalui kegiatan Majelis Taklim ini, diharapkan semangat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi benar-benar menjadi momentum memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta memperbaiki diri menuju pribadi muslim yang lebih bertakwa dan istiqomah.

