
Dzulhijjah: Bulan Ayah yang Mengajarkan Ketaatan Tanpa Tapi
Oleh Fahmi Syahbudin
Takbir bergema. Ia tidak sekadar mengguncang udara, tapi mengguncang hati yang lelah dengan dunia. Ia memanggil kita kembali: tunduk, taat, bersyukur, dan berkurban. Di balik takbir itu, ada satu nama yang Allah panggil dengan penuh kedekatan. Abiikum, ayah kalian. Nabi Ibrahim AS.
Kisah kurban bermula dari kerinduan seorang ayah. Di usia 86 tahun, Ibrahim masih bersujud dan berdoa: “Rabbi hablii minas shalihin.” Ya Tuhanku, anugerahkan aku anak yang shalih. Puluhan tahun ia menunggu. Ketika Ismail lahir, rasanya dunia Ibrahim lengkap. Tapi Allah tidak pernah membiarkan hati hamba-Nya terlalu terpaut pada dunia.
Belum kering nifas Hajar, datang perintah yang merobek logika: “Pergilah ke Bakkah. Tinggalkan istri dan anakmu di lembah tandus, 1500 km dari rumahmu.” Lalu perintah kedua: “Berangkatlah tanpa bicara dengan mereka.” Siapa yang tidak hancur mendengarnya? Ibrahim berjalan. Hajar mengejar. Tiga kali ia bertanya, dan di pertanyaan terakhir ia berkata dengan keyakinan yang merobek langit: “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim mengangguk. Hajar tersenyum dan menjawab, “Jika demikian, pergilah. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Itulah keluarga yang dibangun di atas makrifatullah. Bukan di atas rasa aman, bukan di atas kenyamanan, tapi di atas keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengatur. Di tengah gurun yang gersang, Ibrahim mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati… agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 37).
Ia tidak menitipkan harta, tidak menitipkan jabatan. Ia hanya menitipkan shalat. Karena ia tahu, kalau hubungan dengan Allah terjaga, maka Allah akan menjaga yang lain. Allah memanggil kita untuk mengikuti agama ayah kita, Ibrahim AS. (QS. Al-Hajj: 77).
Kalau dunia punya Hari Ayah Nasional di November, maka bagi kaum muslimin, Dzulhijjah adalah Bulan Ayah. Jika Ramadhan adalah tarbiyah dzatiyah, pendidikan pribadi, maka Dzulhijjah adalah tarbiyah a’iliyah, pendidikan keluarga. Karena Allah tidak meminta kita meneladani Ibrahim sendirian. Ia meminta kita meneladani Ibrahim bersama Hajar yang sabar, bersama Ismail yang taat.
Keluarga Nabi Ibrahim AS mengajarkan lima pilar untuk membangun rumah yang diberkahi. Pertama, makrifatullah yang melahirkan ridho. Ketaatan tanpa tapi. Patuh tanpa syarat. Di situlah ruh pengorbanan lahir. Tanpa ridho, kurban hanya jadi daging.
Kedua, birrul walidain yang total. Berbakti pada orang tua meski pahit. Karena ridho Allah ada pada ridho mereka. Ketiga, tawakal dalam memilih pasangan. Keluarga shalih dibangun oleh dua hati yang saling mengisi, bukan dua ego yang saling menuntut.
Keempat, menyadari anak adalah titipan. Orang tua shalih membangun kedekatan dengan doa, komunikasi, dan diskusi. Ongkosnya adalah ketaatan dan pengorbanan. Kelima, sabar dan ikhlas sepanjang hayat. Membangun keluarga butuh samudera sabar dan keikhlasan yang melangit, sampai Allah pertemukan kembali di akhirat yang kekal.
Ketaatan tanpa tapi itu tidak pernah sia-sia. Para ulama berkata, ia melahirkan peradaban. Kita tidak tahu berapa pengikut Nabi Ibrahim AS di masa hidupnya. Tapi lihat sekarang: milyaran manusia bershalawat untuknya. Allah abadikan delapan keberkahan dari ketaatannya. Syariat kurban dan haji yang kita laksanakan. Air Zamzam yang tak pernah kering. Namanya menjadi doa yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Ia menjadi Abul Anbiya, bapak para nabi. Dari keturunannya lahir Nabi Muhammad SAW. Shalawat untuknya abadi dalam setiap shalat kita. Dan Al-Quds dengan Masjidil Aqsha tetap berdiri sebagai bagian dari risalah kenabian.
Menjelang wafat, Malaikat Maut datang pada Ibrahim. “Aku diperintahkan mencabut nyawamu,” katanya. Ibrahim menjawab, “Bagaimana mungkin Allah yang mencintai hamba-Nya menyakiti kekasih-Nya dengan sakitnya kematian?” Malaikat kembali pada Allah. Lalu turun jawaban: “Wahai Ibrahim, bagaimana mungkin seorang hamba yang mencintai-Ku menolak perjumpaan dengan-Ku?” Ibrahim tersenyum. Ia pasrah dicabut nyawanya demi perjumpaan dengan Rabb yang sangat dicintainya.
Demikianlah kisah Nabi Ibrahim AS, hamba yang ta’at tanpa tapi, patuh tanpa syarat, Nabi teladan, ayahanda kita, Nabi yang paling mesra dengan Rabb-Nya.

