
Bukan Hidupmu, Tapi Hatimu ……
Oleh Badi’an Hasan
Kadang manusia lupa bahwa dirinya hidup di antara lautan nikmat. Kita masih bisa membuka mata di pagi hari, masih bisa bernapas tanpa alat, masih bisa mendengar suara orang yang dicintai, masih diberi kesempatan hidup sampai hari ini. Namun terkadang hati tetap merasa kurang. Tetapi karena mata terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain.
Ketika ditimpa kesulitan, manusia mudah mengeluh. Ketika diberi nikmat, manusia mudah lupa bersyukur. Begitulah lemahnya hati manusia jika terlalu dekat dengan dunia. Hari ini manusia hidup di zaman yang membuatnya mudah membandingkan diri. Tatkala membuka media sosial ia melihat orang lain sukses.
Lalu hati bertanya: “Kenapa hidupku tidak seperti mereka? Kenapa aku belum berhasil? Padahal yang terlihat oleh mata hanyalah permukaan kehidupan. Dunia hanya memperlihatkan senyum, pencapaian, dan kemewahan. Dunia tidak memperlihatkan luka yang disembunyikan, tangisan di malam hari, dan hati yang sebenarnya lelah.
Allah melarang manusia terus memandang nikmat dunia milik orang lain, karena itu hanya bunga kehidupan dunia, indah sebentar, lalu layu. Tetapi manusia sering lupa. Ia lebih fokus pada apa yang belum dimiliki daripada apa yang sudah Allah titipkan. Ia menghitung kekurangan lebih banyak daripada menghitung nikmat.
Padahal, bisa jadi yang ia keluhkan hari ini adalah nikmat yang sangat diinginkan orang lain. Ada orang yang iri melihat kesehatanmu. Ada yang menangis karena ingin memiliki keluarga sepertimu. Ada yang berjuang keras hanya untuk mendapatkan ketenangan yang selama ini kamu abaikan.
Namun manusia mudah lalai terhadap nikmat. Nikmat Allah terlalu banyak. Tetapi hati manusia sering kali terlalu sempit untuk menyadarinya. Karena itu Rasulullah SAW memberi nasihat yang sangat menyentuh: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim).
Betapa indah ajaran ini. Jika manusia terus melihat ke atas dalam urusan dunia, ia akan merasa kurang. Selalu ada yang lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih terkenal. Tetapi ketika melihat ke bawah, ia akan sadar bahwa dirinya sebenarnya telah hidup dalam banyak kemudahan. Sayangnya, banyak manusia lebih ingin terlihat sukses di mata dunia daripada tenang di hadapan Allah.
Padahal tidak semua yang terlihat berhasil itu bahagia. Ada orang yang hartanya melimpah tetapi hatinya gelisah. Ada yang terkenal tetapi kesepian. Ada yang dipuji manusia tetapi jauh dari Allah. Sebaliknya, ada orang sederhana hidupnya biasa saja namun hatinya damai karena penuh syukur.
Inilah rahasia ketenangan. Bukan tentang hidup yang selalu sempurna. Tetapi tentang hati yang tetap dekat dengan Allah dalam keadaan apa pun. Orang yang bersyukur tidak berarti hidupnya tanpa masalah. Ia hanya sadar bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada semua kekurangannya.
` Dan orang yang terus mengeluh sebenarnya sedang melelahkan dirinya sendiri. Karena dunia tidak akan pernah selesai memberi alasan untuk merasa kurang. Maka sebelum mengeluh tentang hidupmu, ingat kembali berapa banyak doa yang dulu pernah kamu minta, lalu hari ini Allah sudah mengabulkannya.
Tetapi manusia sering lupa setelah doanya dikabulkan. Mungkin hari ini hidupmu belum seperti yang kamu inginkan. Mungkin rezekimu belum sebanyak orang lain. Mungkin jalanmu masih terasa berat. Namun bukan berarti Allah meninggalkanmu.
Bisa jadi Allah sedang mendidik hatimu agar lebih kuat. Bisa jadi Allah sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak kamu ketahui. Dan bisa jadi, nikmat terbesar yang Allah ingin berikan bukanlah dunia melainkan hati yang tenang dan dekat dengan-Nya.
Karena pada akhirnya, dunia hanya tempat singgah. Dan semua yang membuat manusia iri hari ini suatu saat akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal, syukur, dan hati yang pernah bersabar karena Allah. Wallahu a’lam.

