
Taushiyah Haul Ke-10 H. Sahal Suhana, SH
Jum’at, 7 Agustus 2026 M / 23 Shafar 1448 H
“Melanjutkan Semangat Pengabdian dan Keikhlasan
H. Sahal Suhana, SH”
Oleh:
Jajang Aisyul Muzakki
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji dan syukur kita haturkan ke hadirat Illahi Rabbi. Dialah yang merajut detak jantung kita dalam nafas keimanan, yang mempertemukan butir-butir rindu kita di bawah naungan majelis yang mulia ini.
Sholawat berbingkai salam semoga senantiasa tercurah ke haribaan kekasih sejati, pelita di ujung malam gulita, junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabatnya yang setia, dan umatnya yang senantiasa merindukan syafaatnya hingga akhir masa.
Yang saya hormati, keluarga besar almarhum tercinta H. Sahal Suhana, SH, para ulama pewaris para nabi, para sesepuh dan tokoh masyarakat, para pimpinan lembaga pendidikan yang setia menjaga mercusuar ilmu, serta seluruh hadirin, hadirat, dan jamaah haul yang dirahmati dan dicintai Allah SWT.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari ini, langkah kaki kita digerakkan menuju tempat ini bukan sekadar oleh jarak atau waktu. Kita hadir karena ditarik oleh gravitasi cinta dan ikatan batin yang tak lekang oleh musim. Tepat di hari Jumat yang penuh berkah ini—7 Agustus 2026—roda waktu membawa kita pada dermaga Haul Ke-10 almarhum tercinta, H. Sahal Suhana, SH.
Kita duduk di sini bukan untuk meratapi jasad yang telah menyatu dengan tanah, melainkan untuk menghirup kembali aroma ketulusan yang pernah beliau tebarkan, serta merawat warisan api semangat yang telanjur membakar jiwa-jiwa di sekitar kita.
Raga boleh berkalang tanah,
Namun harum pekerti takkan pernah lelah.
Sepuluh tahun berlalu bagai desau angin senja,
Namun jejak langkahnya tetap berpijar terang di sanubari kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Satu dasawarsa—sepuluh tahun lamanya—sebuah lembar kehidupan seorang hamba pilihan telah ditutup oleh Sang Pemilik Waktu. Bagi sebagian orang, sepuluh tahun adalah durasi yang cukup untuk membuat ingatan menjadi kabur dan nama mulai terlupakan. Namun, hukum itu tidak berlaku bagi mereka yang mewakafkan seluruh usianya untuk umat. Bagi seorang pahlawan kebaikan, waktu bukanlah penghapus kenangan; ia adalah saringan suci yang justru semakin memperjelas, betapa ranum dan manisnya buah kebaikan yang ditinggalkannya di muka bumi ini.
Mengapa hari ini kita basahi lidah kita dengan dzikir, doa, dan kenangan tentang beliau? Karena dalam tradisi Islam yang luhur, mengenang orang-orang saleh bukanlah ritual hampa tanpa makna. Allah SWT mengabadikan keagungan jiwa mereka dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 100)
Almarhum H. Sahal Suhana, SH adalah bagian dari barisan mulia itu—jiwa-jiwa yang tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan menyerahkan hari-hari, keringat, dan pikirannya untuk kemaslahatan umat, membangun peradaban, serta menyalakan pelita pendidikan di tanah Ciremai tercinta.
Melalui tema yang memanggil batin kita hari ini—”Melanjutkan Semangat Pengabdian dan Keikhlasan H. Sahal Suhana, SH”—kita sesungguhnya sedang berdiri di depan cermin besar kehidupan. Kita sedang dituntun untuk menatap diri kita sendiri dan bertanya dengan jujur: Sejauh mana kita telah menjaga agar lentera yang beliau wariskan tidak padam ditelan angin zaman?
Hadirin yang dimuliakan Allah
Mari sejenak kita tundukkan kepala, menepi dari hiruk-pikuk dunia yang bising, dan membiarkan jiwa kita menyelami keheningan waktu. Hari ini, di bawah naungan langit Ciremai yang setia menyaksikan perjalanan sejarah, kita berhimpun bukan karena seremonial yang hampa. Kita duduk di sini, di majelis yang harum oleh doa, karena sebuah rindu yang tertahan dan sebuah cinta yang tak lekang oleh dekade.
Tepat sepuluh tahun sudah—satu dasawarsa lamanya—sehelai daun bernama H. Sahal Suhana, SH gugur dari pohon kehidupan, kembali keharibaan Sang Pencipta. Sepuluh tahun waktu berjalan, dan angin Ciremai tetap berhembus membawa nama beliau, menyisakan jejak kaki yang terukir abadi di atas batu karang pengabdian.
Waktu bukanlah jarak yang menjauhkan,
Ia adalah penyaring yang memurnikan kenangan.
Sepuluh tahun berlalu, dan kebaikan itu…
Masih harum mewangi di setiap sudut ruang yang pernah ia sentuh.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sepuluh tahun lalu, dunia kita terasa kehilangan salah satu tiang penyangganya. Almarhum H. Sahal Suhana, SH menutup lembar kitab usianya di dunia. Namun, sebuah lembaran baru terbuka di hati kita semua: lembaran keteladanan.
Manusia memang bisa mati. Raga yang lelah menanggung amanah itu pada akhirnya harus beristirahat di dalam pelukan bumi. Tapi seorang tokoh besar tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam senyum anak-anak yang mendapatkan pendidikan, ia hidup dalam denyut nadi lembaga-lembaga yang ia dirikan, dan ia hidup dalam setiap tetes keringat ikhlas yang ia tumpahkan untuk umat.
Allah SWT berfirman dalam keagungan-Nya, sebuah ayat yang seolah merekam jejak jiwa-jiwa mulia:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya…” (QS. Al-Muzammil: 20)
Hari ini, di Haul Ke-10 ini, kita tidak sedang meratapi kepergian beliau. Kita sedang menatap cermin sejarah, bertanya kepada nurani masing-masing: Di mana posisi kita dalam meneruskan lentera yang hampir sepuluh tahun lalu diletakkan di pangkuan kita?
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Marilah kita putar kembali gulungan memori. Mari kita kenang bagaimana almarhum merintis jalan sunyi ini.
Ada masa-masa ketika merintis sebuah lembaga atau membangun fondasi sosial kemasyarakatan di tanah Ciremai bukanlah hal yang mudah. Duri-duri rintangan terbentang, keraguan dari sekitar kadang kala mendera, dan lelah sering kali menyergap tanpa ampun. Namun, apa yang dilakukan oleh H. Sahal Suhana?
Saya teringat sebuah fragmen keteladanan beliau. Ketika orang lain memilih mundur karena badai kesulitan, beliau justru melangkah lebih dekat ke garis depan. Pernahkah kita melihat keluhan keluar dari bibir beliau di saat-saat kritis? Jarang, bahkan hampir tidak pernah. Beliau memilih menelan sendiri letihnya, menyembunyikan lukanya di balik senyuman, dan terus memastikan bahwa orang-orang di sekitarnya—para ustadz, para santri, masyarakat yang tertinggal—tetap mendapatkan hak mereka.
Langkahnya tenang, meski kerikil tajam merobek tapak kaki.
Suaranya teduh, meski hatinya kadang bergemuruh menanggung beban.
Bagi beliau, hidup adalah wakaf;
Dan barang siapa yang sudah mewakafkan dirinya untuk umat,
Ia tak punya hak lagi untuk berkeluh kesah.
Keteladanan ini mengajarkan kita bahwa sebuah kebaikan besar tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari air mata yang disembunyikan di sepertiga malam, dan dari ketulusan yang menolak menyerah kepada keadaan.
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Bagi almarhum H. Sahal Suhana, SH hidup bukanlah panggung untuk mengumpulkan tepuk tangan, melainkan medan sunyi untuk menanam benih kebaikan.
Beliau memandang jabatan bukan sebagai singgasana untuk diagungkan, melainkan sebagai beban suci untuk melayani.
Beliau memandang ilmu bukan sebagai perhiasan diri, melainkan obor untuk menerangi jalan orang lain yang masih meraba dalam kegelapan.
Pengabdiannya bagai akar pohon yang menghujam ke bumi,
Ia tak terlihat oleh mata yang memandang dari kejauhan,
Namun dialah yang membuat batang berdiri kokoh,
Dan ranting-rantangnya sanggup menaungi mereka yang kehausan.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya yang mulia:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesamanya.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)
Mari kita tanyakan pada diri kita hari ini. Sudah berapa banyak jejak manfaat yang kita tinggalkan untuk bumi pertiwi ini? Ataukah kita seringkali menjadi bagian dari kerumunan yang hanya menuntut hak, tetapi lupa menunaikan kewajiban mengabdi? Almarhum telah menunaikan bagiannya dengan sempurna. Kini, giliran kita memikul sisa estafet perjuangan itu dengan air mata kesungguhan.
Hadirin yang saya cintai karena Allah
Ketika saya menuliskan dan menyelami kembali lembar demi lembar perjalanan hidup almarhum H. Sahal Suhana, SH dalam buku ‘Lentera dari Ciremai’, ingatan saya kembali pada satu momen personal yang terukir abadi di lubuk hati saya.
Pada suatu sore yang senyap, di sela-sela keletihan beliau mengurus begitu banyak urusan umat dan lembaga, beliau menelpon saya untuk datang ke rumah beliau. Di ruang tamu itu saya duduk berdua dengan beliau. Tidak ada kemewahan di ruangan itu, yang ada hanyalah aroma kesederhanaan dan keteduhan dari orang tua yang bijak. Saya melihat tangan beliau yang mulai renta, jemari yang menyimpan jejak kerja keras puluhan tahun lamanya, merapikan berkas-berkas pengabdian.
Dengan suara yang tenang, namun bergetar penuh ketulusan, beliau menatap saya dan berpesan:
Jaang… hidup ini sebentar saja. Jangan pernah lelah berbuat baik untuk orang banyak. Manusia itu akan dilupakan orang sesaat setelah ia dikuburkan, tapi kebaikan yang ia tanam di tanah ini akan terus mendoakannya, bahkan ketika ia sudah tertidur lelap di bawah tanah.
Allahu Akbar…
Kalimat itu bukanlah sekadar nasihat dari seorang senior kepada yang muda. Ia adalah tetesan air mawar yang menyiram jiwa, sebuah warisan nurani dari seorang hamba yang telah selesai dengan urusan dunianya sendiri dan hanya memikirkan nasib umat yang ditinggalkannya. Hari ini, sepuluh tahun sudah beliau pergi meninggalkan majelis-majelis kita. Namun, tatapan mata itu, suara yang penuh kelembutan itu, dan pesan-pesan profetik itu masih senantiasa bergema di dalam dada setiap kali angin Ciremai menyapa kulit kita…”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sebuah bangunan pengabdian tidak akan pernah sampai ke langit jika ia tidak disiram dengan air mata keikhlasan. Dan di sinilah letak mahkota kemuliaan almarhum H. Sahal Suhana, SH.
Keikhlasan adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Ia bagaikan jejak kaki di atas pasir pantai; saat ombak datang menghapus, ia tak meninggalkan riuh, namun ia nyata membekas dalam pandangan Sang Pencipta. Semasa hidupnya, almarhum seringkali berjalan di lorong-lorong kesunyian perjuangan, di mana tidak ada sorot kamera yang merekam, tidak ada pujian manusia yang menyambut, namun hatinya tetap berpijar terang oleh cahaya ridha Allah.
Allah SWT berfirman dalam firman-Nya yang suci:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Betapa berat menjaga hati agar tetap lurus. Seringkali pujian memabukkan, dan celaan mematahkan. Namun, dari sosok H. Sahal Suhana, kita belajar tentang sebuah keteguhan karang. Beliau tidak surut karena duri fitnah, dan tidak pula terbang karena buaian sanjungan. Beliau tahu persis, kepada siapa ia mempersembahkan lelahnya: kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ikhlas adalah ketika tangan kanan memberi,
Hingga tangan kiri pun tak sempat mengenali.
Ikhlas adalah ketika nama dilupakan oleh dunia,
Namun namamu disebut-sebut dengan rindu di pintu surga.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di antara sekian banyak jejak keikhlasan yang ditinggalkan oleh Almarhum H. Sahal Suhana, SH ada sebuah prasasti sunyi yang terpatri bukan pada batu nisan, melainkan pada denyut kehidupan sebuah lembaga yang beliau dirikan.
Perhatikanlah dengan mata hati… Pesantren tempat ribuan anak bangsa menempa ilmu, menyucikan jiwa, dan merajut asa, tidak pernah menyandang nama beliau.
Sebuah pilihan yang tampak sederhana, namun menuntut ketundukan ego yang luar biasa. Di saat banyak orang berlomba-lomba mengukir namanya agar abadi di atas dinding-dinding bangunan, almarhum justru memilih untuk menenggelamkan keakuannya. Beliau sadar, rumah ilmu ini bukan tentang siapa yang membangun, melainkan semata-mata karena ridha Allah yang dituju.
Beliau mewakafkan keringat, pikiran, dan seluruh sisa usianya tanpa sedikit pun menuntut agar namanya diagungkan. Namanya sengaja disembunyikan bumi, agar kelak harumnya semerbak di langit abadi. Beliau mengajarkan kita sebuah pelajaran iman yang paling mahal: bahwa amal yang paling ikhlas adalah amal yang bersembunyi, yang tidak haus pujian, dan tidak pula merindukan tepuk tangan dunia.
Ya Allah, ampunilah segala kekhilafatan beliau. Balaslah setiap jengkal keikhlasan itu dengan curahan rahmat-Mu yang seluas langit dan bumi, dan karuniakanlah kepada kami ketulusan hati seperti yang telah beliau teladankan.
Hadirin yang saya cintai karena Allah,
Sepuluh tahun sudah beliau beristirahat dengan tenang. Di bawah pusaranya, tanah Ciremai mendekap raga seorang pejuang sejati. Tapi ingatlah, lentera yang beliau nyalakan tidak boleh padam di tangan kita.
Jika hari ini kita datang ke majelis haul ini hanya untuk menangis, itu adalah air mata yang sia-sia. Air mata hari ini harus bertransformasi menjadi tinta ketekunan, menjadi keringat pengabdian, dan menjadi tekad baja untuk melanjutkan apa yang telah beliau rintis.
Mari kita berjanji dalam lubuk hati kita yang paling dalam: Wahai almarhum, wahai guru kami, wahai orang tua kami tercinta… engkau mungkin telah pergi mendahului kami, tetapi napas perjuanganmu akan terus berhembus melalui derap langkah kami.
Hadirin jamaah haul yang dimuliakan Allah,
Sebelum saya menutup uraian ini, marilah kita satukan hati, kita lepaskan sejenak beban dunia, kita bayangkan wajah almarhum H. Sahal Suhana, SH, dan kita hadiahkan doa-doa terbaik yang menembus langit:
Ya Allah, ya Ghafur, ya Rahim…
Hari ini, tepat sepuluh tahun kepulangan hamba-Mu yang tercinta, H. Sahal Suhana, SH keharibaan-Mu.
Kami bersaksi, ya Allah, selama ia bernapas di muka bumi ini, ia adalah sosok yang menebar cinta, merawat umat, dan memperjuangkan kebaikan-Mu dengan cucuran keringat dan keikhlasan yang tulus.
Ya Allah…
Jika semasa hidupnya ia pernah khilaf, maka limpahkanlah ampunan-Mu seluas samudera.
Jika lelahnya dalam mengabdi adalah berat baginya di dunia, maka jadikanlah lelah itu sebagai timbangan amal paling berat yang memasukkannya ke dalam surga-Mu tanpa hisab.
Ya Allah, ya Dzal Jalali wal Ikram...
Jangan biarkan lentera perjuangannya padam di hati kami. Berikanlah kami kekuatan, ketulusan, dan keikhlasan untuk terus melanjutkan langkah-langkah indahnya, merawat umat, dan menjaga warisan kebaikannya hingga nanti, di yaumil akhir, Engkau kumpulkan kami kembali dalam keabadian kasih sayang-Mu.
Rabbana la tuzig qulubana ba’da idz hadaitana wa hab lana min ladunka rahmah, innaka antal-wahhab.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘alal mursalin, wal-hamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

