
Isra Miraj: Perjalanan Penghambaan
Tabligh Akbar Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H digelar di Gedung Serbaguna (GSG) Aridha Nursyahbani, yang sekaligus menjadi acara perdana penggunaan gedung tersebut. GSG yang berada di kawasan GOR ini memiliki kapasitas kurang lebih 3.000 orang dan dipenuhi oleh seluruh santri putra dan putri HK1 yang mengikuti kegiatan dengan khidmat.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Urusan Halaqah Tarbawiyah Bidang bekerja sama dengan Bidang Dakwah dan Ruhiyah OSHK. Acara diawali dengan penampilan Tim Hadroh santri Husnul Khotimah yang menambah kekhidmatan suasana. Di sela-sela acara, penampilan Tim Nasyid Munsyidin HK turut memeriahkan dan menguatkan nuansa spiritual dalam peringatan Isra Mi’raj tersebut.
Dalam sambutannya, Ustadz Abu Bakar, Lc., selaku Sekretaris Mudir HK1, menyampaikan pentingnya meneladani makna Isra Mi’raj sebagai momentum penguatan ibadah dan akhlak santri. Ia mengingatkan bahwa salat merupakan mi’rajnya orang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ash-shalātu mi‘rājul mu’min.”
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh KH. Jajang Aisyul Muzakki, Lc., M.Pd.I. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan bahwa hakikat Isra Mi’raj adalah perjalanan penghambaan. “Kita tidak akan sampai ke Sidratul Muntaha kecuali dengan menjadi ‘abdihi—hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegasnya.
Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memiliki kedudukan istimewa karena perintah salat diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara Malaikat Jibril. Jika Rasulullah menjemput perintah salat dengan naik ke langit, maka para santri menjemput keberkahan dan ilmu dengan menjaga salat. “Tanpa salat dan tanpa zikir, ilmu hanya menjadi wawasan, bukan cahaya,” ujarnya penuh penekanan.
Dosen UIN Syekh Nurjati Cirebon tersebut juga mengingatkan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Mengutip Surah An-Najm ayat 17 tentang adab Rasulullah di Sidratul Muntaha, beliau menegaskan bahwa keberkahan ilmu lahir dari adab. Santri diminta menjaga pandangan, fokus saat belajar, dan memuliakan ustadz serta ustadzah. Dengan adab itulah, ilmu tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga membawa keberkahan.
Dalam bagian akhir tausiyahnya, Anggota Dewan Pengawas YHK ini menguatkan santri agar bersabar dalam proses pendidikan. Ia mengingatkan bahwa sebelum mendapatkan kemuliaan Isra Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlebih dahulu melewati masa-masa kesedihan. Begitu pula santri, harus siap menghadapi kesulitan selama belajar di pesantren. Mengutip Imam Syafi’i, beliau menyampaikan bahwa siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya belajar, akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Beliau juga menyinggung kondisi awal berdirinya Husnul Khotimah yang serba sederhana sebagai pelajaran agar santri mensyukuri fasilitas hari ini dan tetap bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Tabligh Akbar Isra Mi’raj ini menjadi momentum penting bagi seluruh civitas HK untuk memperbaiki kualitas ibadah, adab, dan kesungguhan dalam belajar, agar ilmu yang diperoleh benar-benar menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

