
Mengokohkan Amanah dan Tanggung Jawab: Pelantikan Ketua Dewan Pengawas Yayasan Husnul Khotimah Kuningan
Kuningan, 12 April 2026 — Pelantikan Ketua Dewan Pengawas Yayasan Husnul Khotimah Kuningan berlangsung khidmat pada Ahad (12/4/2026) di Gedung Darul Arqam, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.
Acara ini dihadiri jajaran Dewan Pembina, di antaranya Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, M.A., selaku Ketua Dewan Pembina, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Lc., M.A., Prof. Dr. Jaih Mubarok, S.E., M.Ag., KH. Kosasih Toyib, Lc., M.H., serta Dr. Khairan Muhammad Arif, S.Ag., M.A., M.Ed.
Turut hadir pula jajaran Dewan Pengawas dan Pengurus Yayasan, termasuk KH. Jajang Aisyul Muzaki, Lc., M.Pd.I., KH. Addin Nurhaedin, Lc., M.Pd., serta Ketua Umum Yayasan KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd. Al-Hafidz, H. Maman Kurman, S.H., H. Asep Saputra, dan Dr. Mulyana Saleh, M.Pd., beserta para kepala Divisi, Kepala Unit dan Kepala Urusan di HK1 dan HK2.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, Sekretaris Dewan Pembina, H. Maman Kurman, S.H., membacakan keputusan rapat Dewan Pembina terkait penetapan Ketua Dewan Pengawas.
Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pembina, Dr. Ahmad Satori Ismail. Dalam prosesi tersebut, KH. Jajang Aisyul Muzaki resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pengawas.
Suasana haru menyelimuti ruangan saat KH. Jajang Aisyul Muzaki mengucapkan ikrar. Dengan suara bergetar, beliau tampak menahan tangis ketika melafalkan kalimat, “Asyhadu alla ilaha illallah…”, yang menjadi bagian dari komitmen spiritual dalam mengemban amanah besar tersebut. Momen ini menjadi gambaran kesungguhan dan tanggung jawab moral dalam mengawal jalannya yayasan.
Setelah prosesi pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Dewan Pembina, Dr. Ahmad Satori Ismail. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa amanah kepemimpinan merupakan tanggung jawab besar, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diangkat sebagai imam oleh Allah SWT.
Beliau menjelaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang hanya layak diemban oleh mereka yang menjaga ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, setiap individu dalam lembaga dituntut untuk terus memperbaiki diri agar tidak termasuk golongan yang menyia-nyiakan amanah.
Selain itu, Dr. Satori Ismail menekankan pentingnya penguatan literasi sebagai kunci menghadapi tantangan masa depan. Ia mengingatkan agar para pendidik tidak merasa cukup dengan kondisi saat ini, tetapi terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan profesionalitas.
Dalam arahannya, beliau juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam pengabdian, menjauhi sikap senioritas, serta menjaga ukhuwah di lingkungan pesantren. Ia menegaskan bahwa keberhasilan santri tidak lepas dari pengorbanan para guru di belakangnya.
“Kalau ada santri hebat, pasti ada guru-guru yang berkorban. Maka mari kita luruskan niat, bekerja lillahi ta’ala, dan saling menguatkan dalam membangun lembaga ini,” pesannya.
Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa menghargai para pendahulu yang telah berjasa dalam membangun yayasan, serta mendoakan mereka agar mendapatkan pahala yang terus mengalir dari amal jariyah yang telah ditanamkan.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan taujih yang disampaikan oleh Dr. Khairan selaku Anggota Dewan Pembina Yayasan. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa amanah kepemimpinan merupakan tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan.
Ia mengingatkan bahwa lawan dari amanah adalah khianat, sehingga setiap pengemban amanah dituntut untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya. “Ketika amanah tidak ditunaikan dengan baik, maka itu termasuk bentuk pengkhianatan,” tegasnya.
Dr. Khairan juga menyoroti peran strategis dunia pendidikan, khususnya pesantren, sebagai benteng moral bangsa di tengah tantangan zaman, termasuk derasnya arus teknologi dan kemudahan akses terhadap hal-hal negatif.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tugas pendidik tidak hanya mentransfer ilmu (ta’lim), tetapi juga menyucikan dan membina jiwa (tazkiyah). Menurutnya, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh pembinaan aspek jiwa yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang.
“Jika jiwa dibina dengan baik, maka sebagian besar persoalan pendidikan dapat terselesaikan. Namun jika hanya fokus pada aspek kognitif, maka akan muncul ketimpangan,” ungkapnya.
Dalam penutup taujihnya, Dr. Khairan mengajak seluruh jajaran yayasan, khususnya para guru dan pengelola pendidikan, untuk terus menjaga keikhlasan, memperkuat pembinaan ruhiyah, serta menjalankan peran sebagai pewaris tugas kenabian dalam mendidik generasi umat.
Acara ditutup dengan doa oleh KH. Kosasih Toyib, Lc., M.H., seraya berharap keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan amanah yang telah diberikan.

