
Ziarah Kubur Pendiri HK, Menapaktilasi Jejak Perjuangan dan Cinta Para Pendahulu
“Betapa banyak lelah yang mereka sembunyikan, betapa banyak harapan yang mereka titipkan, dan betapa besar pengorbanan yang mungkin hanya Allah yang mengetahuinya. Maka ziarah kita hari ini adalah ungkapan cinta. Doa-doa kita adalah bukti bakti. Dan air mata yang mungkin jatuh adalah tanda bahwa kita tidak pernah lupa.”
Kuningan — Dalam rangka Milad ke-32 Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, keluarga besar Yayasan Pendidikan Islam Husnul Khotimah menggelar ziarah kubur ke makam para tokoh dan pendiri pesantren pada Jumat (2/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang jasa para pendiri, memanjatkan doa, sekaligus meneguhkan komitmen dalam melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang telah mereka wariskan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Almarhum Ustadz Achidin Noor di area Makam HK1 pada pukul 06.00–06.30 WIB. Selanjutnya, rombongan melanjutkan ziarah ke makam H. Sahal Suhana dan H. Ibrahim Sukanta di area Makam Al Mu’tazam pada pukul 06.30–08.00 WIB.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur pembina, pengurus yayasan, keluarga besar para pendiri, tokoh masyarakat, kepala divisi, serta keluarga besar Yayasan Husnul Khotimah Kuningan. Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan pembacaan hadharah, tahlil, doa bersama, serta prosesi tabur bunga dan nyekar makam. Pembacaan hadharah, tahlil, dan doa bersama di area Makam HK1 dipimpin oleh Al-Ustadz Wahyudin, S.H.I., M.Pd., sedangkan di area makam H. Sahal dipimpin oleh H. Nono Sudana.
Dalam sambutannya, Ustadz Mu’tamad menegaskan bahwa perjalanan panjang Yayasan Husnul Khotimah tidak dapat dipisahkan dari keikhlasan dan pengorbanan para waqif, pendiri, serta para pendahulu yang telah wafat.
“Setelah 32 tahun perjalanan Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, kita kembali merenungi sejarah lembaga besar ini. Lembaga yang kita cintai ini tidak akan pernah terwujud tanpa keikhlasan, kerja keras, dan pengorbanan para waqif, pendiri, serta para pendahulu yang telah dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ziarah kubur bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk penghormatan sekaligus ruang muhasabah bagi seluruh keluarga besar pesantren.
“Sudah selayaknya kita memberikan doa terbaik untuk mereka. Kita meyakini bahwa para pendiri dan para pegawai yang telah wafat termasuk orang-orang yang mendahului kita dalam keimanan. Kewajiban kita hari ini adalah mendoakan mereka, mengenang jasa-jasa mereka, dan meneruskan kebaikan yang telah mereka torehkan,” katanya.
Suasana khidmat dan haru terasa sepanjang prosesi doa dan tabur bunga, ketika para peserta mengenang perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan pondasi lembaga.
Sementara itu, KH. Abdul Rasyid menegaskan bahwa ziarah kubur bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud cinta, penghormatan, dan apresiasi atas perjuangan para pendahulu. Saat menyampaikan sambutannya, KH. Abdul Rasyid tampak beberapa kali menahan haru. Dengan suara bergetar dan tetesan air mata, ia menyampaikan pesan-pesan tentang perjuangan dan amanah para pendiri. Suasana pun berubah semakin emosional; sejumlah hadirin terlihat menundukkan kepala, menyeka mata, dan meneteskan air mata saat mengenang jejak pengorbanan para pendahulu.
“Kita hadir pagi ini bukan hanya untuk menjalankan tradisi. Kehadiran kita adalah bentuk penghormatan, tanda cinta, dan apresiasi atas jasa-jasa mereka yang telah meletakkan pondasi perjuangan,” tuturnya.
Ia menyebut sosok Haji Ibrahim Sukanta dan Haji Sahal Suhana, S.H. sebagai figur yang memiliki keikhlasan, keteguhan, serta visi keumatan dalam membangun lembaga pendidikan yang kini manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat.
Menurutnya, perjalanan 32 tahun Husnul Khotimah dan 24 tahun Al-Multazam Husnul Khotimah tidak lepas dari pengorbanan para pendiri, waqif, serta para pegawai yang telah mendahului.
“Dari tangan-tangan penuh pengorbanan itulah lahir generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, dan siap berkhidmat untuk umat,” ungkapnya.
Momentum ziarah ini juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar yayasan untuk merenungi nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu. KH. Abdul Rasyid mengingatkan bahwa keberlangsungan lembaga sangat bergantung pada kesungguhan generasi penerus dalam menjaga amanah.
“Apa yang kita lanjutkan hari ini bukan sekadar lembaga, tetapi nilai perjuangan dan nilai ibadah,” tegasnya.
Suasana haru menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan. Sejumlah keluarga pendiri dan peserta tampak larut dalam doa, mengenang jejak perjuangan yang telah mengantarkan Husnul Khotimah menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Kabupaten Kuningan.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Husnul Khotimah berharap semangat, ketulusan, dan nilai perjuangan para pendiri terus hidup dalam setiap langkah pengembangan lembaga.
“Usia 32 tahun adalah usia yang matang dan kokoh. Maka kita harus tetap kuat, sabar, dan istiqamah dalam menjaga amanah ini,” pungkas KH. Abdul Rasyid.

