
Circle of Control
Oleh Adi Bintoro
Hari-hari itu, awal Umar bin Abdul Aziz menjabat menjadi Khalifah kaum mukminin. Kondisi kekhalifahan Umayyah sangat memprihatinkan akibat maraknya korupsi, ketimpangan sosial dan lainnya. Kas negara (Baitul Mal) disalahgunakan oleh pejabat dan keluarga istana, pajak-pajak memberatkan rakyat kecil. Rumit, remuk, redam keadaan saat itu. Amat sulit untuk memperbaikinya.
Kesemua kondisi itu kita sebut sebagai Circle of concern. Lingkaran kepedulian, lingkaran perhatian, sesuatu yang kita peduli tentangnya, tapi kita tidak bisa mengendalikannya. Menyesakkan dada menyaksikannya, membuat pening kepala ketika memikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Karena memang itu berada di luar kendali kita.
Lantas apa yang dilakukan Khalifah Umar ketika itu? Khalifah memulai dari apa yang bisa beliau kerjakan. Khalifah menyedekahkan seluruh harta kekayaan dan perhiasan keluarganya sendiri ke Baitul Mal untuk memberi teladan. Memecat pejabat korup menjadi agenda berikutnya. Kemudian menyita harta negara yang dikuasai secara illegal oleh kerabat istana. Menghapus diskriminasi pajak, dan menjaga stabilitas ekonomi. Khalifah Umar berfokus pada apa yang kita sebut sebagai Circle of control. Fokus pada apa yang bisa beliau lakukan pada saat itu.
Khalifah tidak bisa mengendalikan apakah seluruh elite Umayyah akan mendukungnya, tetapi ia bisa mengendalikan apakah dirinya sendiri berlaku adil. Disini kita mengambil pelajaran bahwa fokus memperbaiki apa yang berada dalam kekuasaanmu hari ini akan berdampak pada hal-hal yang lebih besar yang akan mengikutinya in syaa Allah.
Imam Bukhari juga pernah menghadapi hal ini. Beliau ingin mengumpulkan hadits yang shahih dari seluruh dunia islam. Tapi beliau tidak bisa mengendalikan jumlah hadits yang beredar, kualitas hafalan semua perawi atau kondisi politik saat itu. Beliau fokus pada menghafal hadits, menempuh perjalanan jauh, memeriksa sanad satu persatu, menetapkan standar ketat dalam menerima hadits, berdoa dan beribadah. Inilah circle of control imam Bukhari.
Imam Syafi’i pernah berbagi tentang circle of control yang beliau miliki dalam menuntut ilmu. Saudaraku kata imam Syafi’i, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Kecerdasan, semangat yang tinggi, kesungguhan, bekal yang cukup, bimbingan guru dan waktu yang panjang.
Kondisi ekonomi kita yang kurang, sulitnya sebuah mata pelajaran, kondisi keluarga yang sedang tidak kondusif dan keinginan berkuliah ke tempat-tempat jauh, ke sumber-sumber ilmu. Kesemua itu adalah wilayah concern kita. Janganlah terlalu lama menatapnya. Mulai alihkan pandangan pada apa yang kita bisa perbuat, pada apa yang berada dalam wilayah control kita. Mulailah bertanya, apa wilayah kontrolmu? After that, start to step.

