Enam Bekal Imam Syafi’i untuk Mengawali Perjalanan Ilmu Santri Husnul Khotimah

Enam Bekal Imam Syafi’i untuk Mengawali Perjalanan Ilmu Santri Husnul Khotimah

Kuningan – Semangat baru mewarnai dimulainya Tahun Pelajaran 2026–2027 di Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Ribuan santri mengikuti Apel Pembukaan TP. 2026/2027 yang digelar di Lapangan STIS Husnul Khotimah, Senin (13/7). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh santri MTs dan MA, mulai dari kelas VII hingga XII, dewan guru, serta para asatidz dan asatidzah sebagai penanda dimulainya perjalanan pendidikan selama satu tahun ke depan.

Dalam Arahan Pembina Apel, Mudir Mahad Husnul Khotimah 1, Kiai Mulyadin, Lc., M.H., menegaskan bahwa tahun pelajaran baru bukan sekadar pergantian kelas, jadwal pelajaran, ataupun seragam. Lebih dari itu, momen ini harus menjadi kesempatan bagi seluruh warga pesantren untuk memperbarui niat serta meningkatkan kesungguhan dalam menuntut ilmu demi meraih ridha Allah SWT.

“Tahun pelajaran baru ini bukan hanya perpindahan kelas, bukan hanya perubahan jadwal pelajaran, bukan sekadar naik level dan berganti seragam. Ini adalah momentum untuk kembali menata niat dan orientasi kita hadir di Pondok Pesantren Husnul Khotimah,” ungkap beliau.

Selain meluruskan niat, beliau juga mengajak seluruh santri untuk mempererat ukhuwah Islamiyah melalui semangat saling mendukung, saling memotivasi, serta membangun kerja sama yang baik antarsesama santri maupun dengan para guru.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Mulyadin mengingatkan bahwa kehidupan di pesantren merupakan jalan perjuangan. Berbagai keterbatasan yang dijumpai, mulai dari fasilitas hingga pengaturan waktu, bukanlah hambatan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter seorang penuntut ilmu.

“Pesantren bukan tempat untuk bersantai, bukan tempat mencari kesenangan ataupun berhura-hura. Pesantren adalah tempat perjuangan. Karena itu, segala keterbatasan yang ada merupakan konsekuensi dari seorang pejuang ilmu.”

Mengutip nasihat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, beliau menjelaskan enam bekal utama yang harus dimiliki setiap penuntut ilmu agar memperoleh ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.

Bekal pertama adalah kecerdasan (dzakâ’). Menurut beliau, kecerdasan bukan sekadar nilai akademik yang tinggi, melainkan kemampuan mengenali diri, mengendalikan hawa nafsu, memahami potensi yang dimiliki, serta terus berusaha memperbaiki diri. Beliau menjelaskan bahwa ada kecerdasan yang merupakan anugerah Allah, namun sebagian besar manusia memperoleh kecerdasan melalui proses belajar, latihan, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Bekal kedua adalah hirsh (kemauan yang kuat). Beliau mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa kemauan yang tinggi tidak akan menghasilkan prestasi. Semangat belajar, kesiapan menerima arahan, serta keinginan untuk terus berkembang menjadi modal penting dalam perjalanan menuntut ilmu.

Selanjutnya adalah ijtihad atau kesungguhan. Ilmu, menurut beliau, tidak akan menghampiri orang yang bermalas-malasan. Kesungguhan menjadi pembuktian nyata dari niat dan cita-cita yang dimiliki setiap santri.

Bekal keempat adalah bulghah (bekal). Bekal tidak hanya dimaknai sebagai materi atau uang saku, tetapi juga kesehatan, doa, kesalehan, dan kedisiplinan. Dalam arahannya, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama berada di pesantren, terutama dengan memperbanyak minum air putih, menjaga pola makan, serta menghindari kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat mengganggu kesehatan.

“Jangan menunggu haus untuk minum. Jagalah kesehatan karena kesehatan adalah bagian dari bekal mencari ilmu,” pesannya kepada para santri.

Bekal kelima adalah suhbatu ustadz (bimbingan guru). Kiai Mulyadin menegaskan bahwa di era digital informasi memang mudah diperoleh melalui internet maupun kecerdasan buatan. Namun, ilmu tidak berhenti pada pengetahuan semata. Ilmu harus membentuk adab, akhlak, dan amal saleh, sesuatu yang hanya dapat diperoleh melalui bimbingan guru dan lingkungan pendidikan yang baik.

Beliau mengajak seluruh santri untuk memuliakan guru, menghormati para ustadz dan ustadzah, murabbi, musyrif, wali kelas, serta seluruh pembimbing di pesantren sebagai jalan memperoleh keberkahan ilmu.

Adapun bekal terakhir adalah thûlu zamân (kesabaran dan waktu yang panjang). Menurut beliau, keberhasilan tidak lahir secara instan. Menuntut ilmu membutuhkan proses, pengulangan, murojaah, kesabaran, dan istiqamah dalam waktu yang panjang.

Sebagai ilustrasi, beliau mengisahkan perjalanan seorang ulama besar yang kembali bersemangat menuntut ilmu setelah melihat tetesan air yang mampu melubangi batu karena dilakukan secara terus-menerus. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa istiqamah dan kesabaran mampu menghasilkan keberhasilan yang luar biasa.

Menutup arahannya, Kiai Mulyadin mengajak seluruh santri menjadikan tahun pelajaran baru sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

“Momentum tahun pelajaran baru ini adalah kesempatan untuk menata kembali niat, meningkatkan ikhtiar, dan menjalankan enam bekal penuntut ilmu sebagaimana diajarkan Imam Asy-Syafi’i. Insya Allah, dengan kecerdasan, kemauan yang kuat, kesungguhan, bekal yang baik, kedekatan dengan guru, serta kesabaran, Allah akan menganugerahkan ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.”

Haflah Iftitah Tahun Pelajaran 2026–2027 ini menjadi penanda dimulainya perjalanan baru seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Dengan semangat perjuangan, adab kepada guru, serta kesungguhan dalam belajar, diharapkan seluruh santri mampu mengukir prestasi sekaligus tumbuh menjadi generasi rabbani yang berilmu, berakhlak, dan siap memberikan manfaat bagi umat.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp