
Kiai Mulyadin: Pernikahan Awal dari Tanggung Jawab Besar di Hadapan Allah SWT
Kiai Mulyadin mengawali nasihatnya dengan doa dan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Amar Abdurrahman dan Nia Oktovia. Beliau mendoakan agar pernikahan ini senantiasa diliputi keberkahan, serta dikaruniai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah hingga akhir hayat. Pernikahan, menurut beliau, bukan sekadar menjadikan dua insan sebagai pasangan yang sah, tetapi merupakan awal dari tanggung jawab besar di hadapan Allah Swt., karena masing-masing tidak hanya membawa dirinya sendiri, melainkan juga menjaga hak, kehormatan, dan martabat pasangan serta kedua keluarga besar.
Nasihat pertama yang ditekankan adalah meluruskan dan menjaga niat pernikahan karena Allah Swt. Niat ini harus dihadirkan sejak sebelum menikah, dijaga setelah akad, dan terus dievaluasi sepanjang perjalanan rumah tangga. Pernikahan yang diniatkan untuk menyempurnakan agama, menghadirkan kesalehan pribadi dan keluarga, serta menjaga kehormatan diri, akan mendapatkan jaminan pertolongan Allah. Rasulullah saw. bersabda bahwa di antara golongan yang pasti dibela Allah adalah orang yang menikah untuk menjaga kehormatan dan aibnya.
Nasihat kedua, menjadikan keimanan sebagai pilar utama rumah tangga. Sakinah, mawaddah, dan rahmah bukanlah hasil dari banyaknya harta, tingginya gelar, atau rupawan rupa, melainkan anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang mendekatkan diri kepada-Nya. Banyak contoh pasangan yang tampak sempurna secara duniawi, namun rapuh karena tidak menjadikan iman sebagai fondasi. Oleh sebab itu, setiap persoalan rumah tangga hendaknya dihadapi dengan menghadirkan Allah dalam setiap keputusan.
Nasihat ketiga adalah saling mendukung untuk bersabar, saling memaafkan, dan bertoleransi. Pernikahan bukanlah drama yang selalu indah, melainkan kehidupan nyata yang pasti diwarnai perbedaan dan masalah. Persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan berdua dengan penuh kasih sayang, bukan diumbar ke media sosial atau diceritakan ke banyak pihak. Menyampaikan kekurangan pasangan harus dengan cara yang baik, kata yang lembut, dan waktu yang tepat. Kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah saw., tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.
Nasihat keempat adalah menjaga rahasia rumah tangga dan menyelesaikan masalah dengan hikmah. Aib yang telah Allah tutupi jangan dibuka sendiri. Rasulullah saw. memperingatkan keras orang yang mengumbar rahasia hubungan suami istri. Dalam hal ini, Ustadz Mulyadin juga menganjurkan agar pasangan suami istri belajar mandiri dengan tidak terlalu bergantung kepada orang tua, meskipun dalam kondisi berkecukupan. Hidup sederhana dan penuh keprihatinan justru akan membentuk ketangguhan dan daya juang dalam membangun keluarga.
Nasihat kelima—yang sekaligus menjadi penutup—adalah saling bekerja sama dalam ketaatan dan kebaikan (ta‘āwanu ‘alaṭ-ṭā‘ah wal khair). Suami dan istri hendaknya saling meneladani dalam ibadah, seperti salat malam dan membangunkan pasangan dengan penuh kelembutan. Rumah tangga yang menghadirkan Allah dalam keseharian, meski serba terbatas secara materi, akan tumbuh kuat dan kokoh. Masalah yang datang ibarat ujian yang menguatkan akar, seperti pohon yang dipangkas agar akarnya semakin dalam. Perbedaan dalam rumah tangga adalah keniscayaan, layaknya aneka rasa dalam masakan yang justru menjadikannya nikmat.
Dengan bekal nilai-nilai ini, Ustadz Mulyadin berharap rumah tangga kedua mempelai dapat tumbuh dewasa, kuat menghadapi ujian, dan berjalan bersama menuju surga Allah Swt., dalam lindungan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

