Ibu, Cahaya Cinta yang Tak Pernah Padam

Ibu, Cahaya Cinta yang Tak Pernah Padam

Oleh Badi’ah Hasan

 

Ibu bukan sekadar seorang wanita. Ibu adalah sosok yang melahirkan dan membesarkan kita. Lebih dari itu, ibu adalah waktu untuk menundukkan hati, mengenang perjuangannya, pengorbanan dan kasih sayangnya yang bersyarat. Ibu tidak pernah berhenti mencintai, meski dunia berpaling darinya.

Dalam Islam, posisi ibu begitu tinggi dan mulia. Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya, ‘Siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tiga kali Nabi menyebut nama ibu, sebagai isyarat bahwa kasih ibu tiada bandingnya, dan jasanya tak mungkin terbalas dengan apa pun. Dari saat kita masih berupa janin, ibu telah menanggung beban yang berat, rasa mual, sakit, dan lelah tanpa mengeluh. Saat melahirkan, ia bertarung antara hidup dan mati. Lalu ketika kita tumbuh, ia menjadi sekolah pertama, guru sejati yang menanamkan nilai iman, kesabaran, dan kasih.

Cinta ibu itu unik. Ia tidak menuntut balasan, tidak menakar kebaikan, tidak menunggu terima kasih. Ia hanya memberi, dan terus memberi. Bahkan ketika anaknya jauh, lupa, atau sibuk dengan dunia, hatinya tetap lembut. Ia akan selalu memaafkan dan mendoakan, bahkan ketika lidah anaknya belum sempat meminta maaf.

Bagi banyak orang, mungkin kata “ibu” berarti rumah. Tempat untuk kembali ketika dunia terasa asing. Tempat bercerita, menangis, dan menenangkan diri tanpa takut dihakimi. Senyum ibu seringkali menjadi obat yang tak tergantikan, dan doanya adalah pelindung yang paling kuat di dunia ini.

Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang baru benar-benar menyadari nilai seorang ibu setelah kehilangan. Setelah rumah menjadi sunyi tanpa suaranya, setelah dapur tidak lagi beraroma masakan kesukaannya, setelah panggilan lembut “nak” tak lagi terdengar.

Di saat itulah banyak hati menyesal, karena terlalu sibuk untuk sekadar menelepon, berkunjung, atau memeluk. Padahal, bagi seorang ibu, kebahagiaan itu cukup sederhana, melihat anaknya datang dengan senyum dan pelukan.

Setiap ibu adalah pahlawan, meski namanya tak pernah tercatat di sejarah besar dunia. Ia bangun lebih pagi dari siapa pun, tidur paling akhir, dan mengorbankan banyak hal tanpa keluhan. Ia tidak mengenakan seragam kebesaran, tetapi di matanya terpancar keberanian dan kasih yang tak pernah habis.

Ibu tidak membutuhkan kemewahan. Ia tidak menuntut ucapan panjang atau hadiah yang mahal, yang ia butuhkan anak-anak yang berakhlak, beriman, dan tahu berterima kasih. Wallahu a’lam.

 

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP