Kiai Mulyadin: Tarbiyah Sebagai Jalan Hidup

Kiai Mulyadin: Tarbiyah Sebagai Jalan Hidup

KUNINGAN – Pondok Pesantren Husnul Khotimah menggelar pembekalan spiritual bagi santri kelas 12. Kiai Mulyadin, Lc. MH., hadir sebagai pemateri utama dalam acara Daurah Akhir Kelas 12 yang diinisiasi oleh Urusan Ruhiyah dan Halaqah Tarbawiyah di Gedung Darul Arqom, Kuningan, pada Kamis malam (12/02/2026).

Acara yang bertepatan dengan malam Jumat tersebut dihadiri oleh seluruh santriwati kelas 12, jajaran pembina putri, serta pengurus terkait. Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Unit Pembinaan Putri, Ustadzah Fitri Nurul Matin, S.Pd.I.

Dalam sambutannya, Ustadzah Fitri menjelaskan bahwa agenda ini mengusung tema “Membina Diri Tanpa Henti”. “Tema ini dipilih untuk menanamkan kesadaran bahwa proses belajar dan pembinaan iman tidak boleh berhenti hanya karena status santri secara formal telah berakhir. Kalian harus tetap menjadi pribadi yang membina diri di mana pun berada,” tegasnya.

Memasuki sesi inti bertajuk Kontinuitas Tarbiyah, Kiai Mulyadin menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bagi seorang santri adalah saat mereka keluar dari gerbang pesantren. Beliau menyampaikan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal dari ujian kemandirian iman.

“Tarbiyah bukan sebuah fase yang selesai saat kalian lulus SMA, melainkan sebuah jalan hidup. Di luar sana dunia tidak netral; kemaksiatan sering dianggap wajar. Tanpa lingkaran pembinaan (halaqah), iman kita akan mudah kusam seperti pakaian yang sering dipakai,” ujar Kiai Mulyadin di hadapan ratusan santriwati.

Menurutnya santri wajib menjaga tarbiyah karena ilmu pada dasarnya membutuhkan penjaga; tanpa adanya tarbiyah, ilmu seseorang akan cenderung melemah, mudah dilupakan, bahkan berisiko disalahgunakan atau membuat seseorang merasa cukup dengan imannya sendiri, sehingga selaras dengan pesan Imam Asy-Syafi’i bahwa ilmu bukanlah sekadar apa yang dihafal, melainkan apa yang memberikan manfaat.

Beliau menganalogikan pentingnya berjamaah dengan hadis Nabi tentang serigala yang hanya menerkam domba yang terpisah dari kawanannya. Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya konsistensi (istiqomah) dalam beramal. Mengutip hadis Nabi, beliau menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (dawam), meskipun sederhana.

Menutup ceramahnya, Kiai Mulyadin berpesan agar santriwati tidak menggadaikan kebahagiaan demi penilaian manusia. “Jangan takut disebut cupu atau aneh karena menjaga syariat. Pastikan Allah ridha, orang tua bangga, dan ilmu dari guru-guru kalian menjadi berkah,” tambahnya.

Suasana daurah yang serius mendadak berubah menjadi ceria dan interaktif di sesi akhir melalui pemberian doorprize bagi santriwati yang berani menjawab tantangan pertanyaan materi. Acara ini diharapkan menjadi bekal mental dan spiritual bagi santri kelas 12 agar tetap teguh memegang prinsip Islam di mana pun mereka melanjutkan studi nantinya.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP