
Pesantren Terus Berbenah: Respon Era Digital dalam Pendidikan
Kuningan – Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama di era digital yang penuh disrupsi. Hal ini menjadi fokus utama dalam kajian i’tikaf malam ke-29 yang disampaikan oleh Pimpinan Ponpes Husnul Khotimah 2, KH. Fauzi Muhammad Ali, Lc., di Masjid Husnul Khotimah Kuningan.
Dalam kajiannya, Ustadz Fauzi menekankan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tidak bisa menutup diri dari kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan globalisasi. Beberapa tantangan utama yang dihadapi pesantren saat ini meliputi transformasi digital dan teknologi, tantangan ideologi dan nilai-nilai keislaman, serta persaingan dengan lembaga pendidikan lainnya.
“Husnul Khotimah ini pun juga dituntut untuk melaksanakan dan senantiasa terus untuk perubahan, karena ini merupakan sebuah metode dalam pembelajaran. Ini termasuk juga bagian dari ibadah ghairu mahdhah, metode atau cara agar bagaimana pendidikan masa kini itu bisa cepat ditangkap dan juga bervariasi, sehingga butuh tantangan dan butuh cara yang baru, yang penting tidak sampai menghilangkan nilai esensi dari keislaman itu sendiri,” ujar Ustadz Fauzi.
Beliau mencontohkan perubahan yang terjadi, bahkan dalam hal berpakaian. Jika dahulu seorang kiai wajib menggunakan sarung ke sekolah, masjid, bahkan untuk sholat, kini seiring perkembangan zaman, hal tersebut tidak lagi menjadi keharusan mutlak. Perubahan ini menunjukkan bahwa tidak semua hal termasuk dalam kategori ibadah mahdhoh (ibadah ritual).
Lebih lanjut, Ustadz Fauzi menyoroti dahsyatnya transformasi digital dan teknologi, terutama sejak pandemi Covid-19. Menurutnya, suka tidak suka, dunia saat ini menuntut adanya adaptasi dalam metode pembelajaran. Generasi Z dan Alfa yang tumbuh di era digital memiliki preferensi belajar yang berbeda, sehingga tantangan digital dan teknologi menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan, termasuk di pesantren.
“Anak-anak atau santri saat ini itu jauh lebih menikmati digital daripada langsung membaca di kitab, di buku, ataupun lainnya. Sehingga kita pun juga harus menyesuaikan, asal tidak menghilangkan nilai-nilai keislaman itu sendiri,” tegasnya.
Pesantren Husnul Khotimah 2 sendiri telah mulai mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan, seperti penggunaan e-learning, media sosial, dan platform digital. Namun, Ustadz Fauzi mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi ini harus tetap memperhatikan nilai-nilai Islam.
“Silakan berkreasi, berinovasi, tapi sebelum menghasilkan atau sebelum melakukan, mohon diajukan terlebih dahulu kepada kami, karena nanti akan kami koreksi, apakah ini menghilangkan nilai-nilai esensi dari Islam itu sendiri atau tidak,” jelasnya.
Selain integrasi teknologi, Ustadz Fauzi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di pesantren. Semua stakeholder harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kurikulum yang adaptif, yang menggabungkan ilmu agama dengan sains dan teknologi, juga menjadi kunci. Beliau mendorong para guru untuk membekali diri dengan kemampuan menyampaikan pembelajaran berbasis digital agar lebih menarik bagi generasi Z.
Dalam konteks dakwah, Ustadz Fauzi menyampaikan bahwa pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman akan lebih efektif. Pemanfaatan media visual dan digital dalam menyampaikan ajaran Islam dapat lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Menyikapi kekhawatiran akan hilangnya nilai-nilai tradisional pesantren di tengah arus digitalisasi, Ustadz Fauzi menegaskan bahwa pesantren tetap dibutuhkan, terutama dalam hal penanaman etika, akhlak, sopan santun, dan karakter sejak dini. Oleh karena itu, perubahan dan adaptasi harus dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
“Al muhafadzatu alal qadimi sholih wal akhdu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik),” kutip Ustadz Fauzi sebagai landasan dalam menghadapi perubahan zaman.
Beliau juga menyinggung sejarah pesantren sebagai pendidikan tertua di Indonesia yang tidak lepas dari peran para kiai dan santri dalam mengembangkan ilmu pendidikan. Meskipun metode pembelajaran terus berkembang, esensi pesantren sebagai benteng pertahanan nilai-nilai Islam harus tetap dipertahankan.
Di akhir kajiannya, Ustadz Fauzi mengajak seluruh elemen pesantren untuk terus berkolaborasi, berkreasi, dan berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman, dengan tetap berpegang pada kode etik dan nilai-nilai Islam. Beliau berharap Pesantren Husnul Khotimah terus mendapatkan kepercayaan masyarakat dan terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul.

