Bukan Gagal, Tapi Langkahmu Hanya Tertunda

Bukan Gagal, Tapi Langkahmu Hanya Tertunda

Oleh Fadilah Alya Hayati

 

Pernah tidak saat hendak mau tidur atau sebelum memulai aktivitas malah terpikir oleh nilai ujian? Di tanganmu masih mengenggam mushaf sebab masih belum bisa mencapai target tasmi’, kamu gelisah di saat yang lain berkemas untuk liburan, saat kamu masih harus menyelesaikan ketertinggalan, atau merasa gagal karena teman terdekat lolos SNBT dan PTN.

Saat melihat di sekitarmu ada orang yang terlihat nyantai, namun mereka malah melesat seperti kereta whoosh. Mereka dengan mudah menyetorkan hafalannya, mengfapal teks Bahasa Inggris dengan mudah atau bahkan yang terlihat jarang belajar mendapatkan nilai bagus. Pada akhirnya, kita terjatuh ke titik di mana “Aku gagal lagi dan semuanya hanya sia-sia”. Merasakan perasaan kecewa lalu merasa hancur seolah dunia sedang krisis, itu hal yang manusiawi.

Namun, bukankah kita sebagai Muslimah yang setiap hari ditempa oleh ayat dan hadis yang seharusnya memiliki keteguhan hati? Keteguhan hati untuk melawan kegagalan sehingga kita bisa menjadi yang terbaik.

Terkadang saat sedang patah semangat, kita malah lupa jika ada skenario yang tidak berjalan sesuai rencana bukanlah sebuah kegagalan. Hanya saja langkah kita yang sedang tertunda. Saat sedang merasa terpuruk, kadang semuanya terasa sangat melelahkan. Merasa lelah saat kegagalan datang, itu wajar. Dengan begitu, maka kita akan bangkit, kemudian kembali mencoba hingga bisa mengalahkan kegagalan.

Saat sedang di rumah, rasanya dunia bergerak dengan sangat terburu. Orang-orang sekitar malah mengukur diri dari seberapa cepat mendapatkan popularitas, prestasi, dan materi. Hingga akhirnya kita malah merasakan “kegagalan”.

Sebenarnya, dalam kamus seorang Muslimah tidak ada yang namanya “gagal” jika berproses dengan ikhlas. Kegagalan bagi Muslimah bukanlah belum khatam atau remedial, tetapi saat memutuskan berhenti belajar dan membereskan barang-barang untuk pulang sebelum waktunya.

Saat merasa tertinggal karena hafalan yang sering lupa meski sudah di-muraja’ah, mungkin saja hal tersebut merupakan waktu agar bisa istirahat. Istirahat yang Allah berikan dari kesibukan dunia sehingga bisa kembali meluruskan niat.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Menghadapi masa tertunda saat mondok itu sangat melelahkan. Apabila masih harus nambah setoran hafalan saat banyak teman sudah menyelesaikan. Saat yang lain bersantai, kita malah sibuk menyelesikan ketertinggalan dan terus berlari.

Saat sedang merasa sesak kaena tertinggal, jalan terbaiknya adalah tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Mungkin usaha hari ini belum mencapai target, sehingga harus mengubah fokusmu.

Apabila hafalanmu belum lancar, cobalah untuk menikmati setiap detik dengan terus mengulang, karena setiap huruf yang dibaca mengalirkan pahala. Apabila ada materi yang belum pahami, temui ustadz/ah untuk minta dibimbing lagi.

Buat Muslimah yang bersedih karena merasa tertinggal, jangan khawatir. Kamu bukan gagal, tapi sedang ditempa melalui jalur VVIP yang tidak didapatkan orang lain. Penundaan terjadi sebab Allah menyayangimu, sehingga kamu selalu mampu bertahan di tengah terpaan badai ujian masa depan.

 

 

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp