Bicara Buku ‘Menghadirkan Negara Sejahtera Berlandaskan Etika’ bersama Wakil Rakyat

Bicara Buku ‘Menghadirkan Negara Sejahtera Berlandaskan Etika’ bersama Wakil Rakyat

Dalam rangka memperingati Milad ke-31 Yayasan Husnul Khotimah, sebuah diskusi buku bertajuk “Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat” diselenggarakan dengan melibatkan lebih dari 100 peserta dari berbagai unsur yayasan dan civitas akademika STISHK. Buku yang menjadi fokus pembahasan adalah “Hadirkan Negara Sejahtera Berlandaskan Etika”, karya Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA., seorang tokoh nasional sekaligus anggota legislatif.

Kegiatan ini diawali dengan seremoni pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, dan pembacaan doa, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Yayasan Husnul Khotimah, Bapak KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd. Al-Hafidz. Beliau menekankan pentingnya mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebagaimana termaktub dalam QS. Saba’ ayat 15, yang berisi sebuah konsep negara yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai spiritual dan moral.

Dalam sambutannya, beliau menegaskan visi yayasan untuk melahirkan sosok santri yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga mampu berperan sebagai negarawan, ulama, ekonom, dan profesional yang berakhlak. Hal ini senada dengan gagasan utama dalam buku yang dibahas bahwa pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari fondasi etika yang kuat.

Dr. Hidayat Nur Wahid, dalam paparannya, menyampaikan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan terhadap kondisi bangsa yang kerap kali tersandera oleh krisis moral. Dengan menyisipkan pengalaman politik, literatur keislaman, dan refleksi sejarah, beliau menguraikan bahwa negara sejahtera sejatinya hanya akan terwujud apabila para pemangku kepentingan menjadikan etika sebagai landasan dalam setiap pengambilan kebijakan. Ungkapan “istri pertama saya adalah buku” yang ia sampaikan menjadi simbol komitmen beliau terhadap dunia literasi dan pendidikan sebagai jalan perubahan.

Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang akademik, melainkan juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif bahwa mahasiswa dan generasi muda harus mempersiapkan diri menjadi agen perubahan. Di tengah arus pragmatisme politik dan materialisme, nilai-nilai etika harus tetap dijaga dan ditanamkan sejak dini, termasuk dalam dunia pesantren dan perguruan tinggi.

Akhirnya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam kehidupan berbangsa tidak semata lahir dari kebijakan formal atau pembangunan fisik, melainkan dari nilai-nilai moral yang tumbuh dalam jiwa para pemimpin dan rakyatnya. Buku ini, dan diskusi yang mengiringinya, menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun peradaban beretika menuju Indonesia yang sejahtera.

TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP