Salam Perdamaian

Salam Perdamaian

Oleh Iif Muhammad Arif

 

Konflik perang dunia III bukan hanya isu semata, sehingga solusi untuk meminimalisir kejadiannya perlu diupayakan. Salah satu solusinya adalah konsep rahmatan lil ‘alamin untuk membebaskan manusia dari belenggu kekejaman. Sayang jika konsep perdamaian tersebut tidak segera dipahami oleh sebagian besar manusia, ditakutkan akan terjadi pertumpahan darah.

Padahal dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea pertama dinyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Boleh jadi, peristiwa kedzaliman yang ada tersebut disebabkan ketidakpahaman sebagian dari kita terhadap hikmah-hikmah ucapan salam dan esensi ajaran Islam lainnya.

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, disebutkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar RA pergi bersama temannya ‘Thufail’ ke pasar. Lalu, Thufail berkata kepadanya: “Apa yang kamu lakukan di pasar, padahal kamu tidak berdagang, tidak membeli, tidak menjual, dan tidak ikut duduk dengan orang-orang di pasar?” Abdullah bin Umar menjawab: “Sesungguhnya kami pergi ke pasar semata-mata untuk tebar salam kepada siapa-pun yang kami temui.”

Dari sini, jelas bahwa cinta perlu diungkapkan. Sangat disayangkan jika masih ada yang gemar melakukan perundungan (bullying) terhadap orang lain, baik secara verbal, fisik, maupun melalui media sosial. Perilaku ini bertolak belakang dengan ajaran salam yang membawa pesan kedamaian, cinta, dan penghormatan.

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk mengucapkan salam ketika datang dan keluar dari suatu majelis. Sayangnya, dalam setiap pertemuan masih ada yang mengabaikan nilai-nilai dasar keimanan dan kesejahteraan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Mereka sibuk membangun citra dan memperkaya diri, sementara ada orang lain yang hidup dalam kesulitan. Ingatlah, jabatan adalah amanah yang seharusnya digunakan untuk melayani, bukan menindas. Assalamu’alaikum perdamaian!

Dalam surat An-Naml Nabi Sulaiman AS dan bala tentaranya pernah melewati jalan yang di tengah-tengahnya ada kerajaan semut. Dengan penuh penghormatan, ia dan pasukannya berhenti sejenak menghormati perasaan seekor semut yang ketakutan karena khawatir kerajaan mereka terinjak dan keberadaannya tidak dihargai, dan Nabi Sulaiman-pun mengubah seluruh arah pasukannya demi menjaga kerajaan semut. Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa menghormati perasaan adalah sikap yang hanya dapat lahir dari orang yang rendah hati, bukan dari sikap sombong dan angkuh.

Assalamu’alaikum perdamian! Sungguh ironis jika ada orang yang mengaku muslim, namun lisannya lebih sering menyebarkan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Lisan yang seharusnya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah justru digunakan untuk menebar racun sosial dan menciptakan permusuhan.

Padahal Nabi SAW bersabda “Seorang muslim sejati adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang yang berhijrah sejati adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jelas bahwa perkataan toxic dan kasar bertolak belakang dengan karakter seorang hamba yang dekat kepada Allah SWT. Sudah saatnya umat Islam membersihkan lisan dari ucapan keji dan menggantinya dengan esensi salam yang penuh rahmat dan perdamaian.

Johan Galtung mengatakan: “Peace is not the absence of conflict, but the presence of creative alternatives for responding to conflict” artinya perdamaian bukanlah ketiadaan konflik, melainkan hadirnya alternatif kreatif dalam merespons konflik.

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, menjadikan salam sebagai simbol perdamaian yang universal. Karena itu, jika setiap individu membiasakan diri dengan salam, maka sesungguhnya ia telah mengambil bagian dalam membangun jembatan kemanusiaan dan merawat nilai-nilai harmoni dalam masyarakat. Assalamu’alaikum perdamaian!

TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP