
Hari Ibu: Berbakti kepada Ibu sebagai Wujud Cinta dan Syukur
Oleh Linda Haryanti
Alumni STISHK dan Pengabdian di Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat
Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember menjadi momen yang berharga bagi kita semua untuk kembali merenung dan menyadari betapa besar peran seorang ibu. Peringatan ini bukan sekadar seremonial semata, tetapi menjadi kesempatan bagi kita untuk mengungkapkan rasa hormat, cinta, dan terima kasih atas segala kasih sayang, pengorbanan tulus yang diberikan seorang ibu sepanjang hidupnya.
Ibu adalah sosok yang mengandung dengan penuh kesabaran, melahirkan dengan taruhan nyawa, membesarkan dengan cinta tanpa syarat, serta mendidik dengan ketulusan hati. Dari tangan lembut dan doa-doanya lahirlah generasi penerus bangsa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam Islam, kedudukan seorang ibu ditempatkan pada derajat yang sangat tinggi. Allah SWT. dan Rasul-Nya menegaskan bahwa berbakti kepada ibu termasuk amalan paling utama.
Ibu adalah madrasah pertama bagi setiap anak. Sejak dini, ibulah yang menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan kasih sayang. Dalam setiap doa yang ia panjatkan terselip harapan agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berbakti, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Berbakti kepada ibu sejatinya adalah bentuk cinta yang nyata dan wujud syukur yang jujur.
Tingginya kedudukan ibu ditegaskan dalam firman Allah SWT:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)
Ayat ini memperjelas betapa besar pengorbanan seorang ibu dan betapa pentingnya perintah untuk berbakti kepadanya.
Rasulullah SAW. juga menegaskan hal tersebut dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Ketika seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak atas diriku?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali, dan jawabannya tetap sama: “Ibumu.” Barulah pada pertanyaan keempat Rasulullah SAW. menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya hak seorang ibu atas bakti dan perhatian anak-anaknya. Oleh karena itu, Hari Ibu menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa menghormati dan menyayangi ibu, tidak hanya pada satu hari tertentu, tetapi sepanjang hidup kita. Bentuk bakti kepada ibu dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah tanpa diminta, mendengarkan nasihatnya, tidak membantah perkataannya, menjaga tutur kata agar tidak menyakiti hatinya, serta bersungguh-sungguh dalam belajar dan berusaha agar dapat membanggakannya.
Di era modern seperti saat ini, berbagai kesibukan sering kali membuat sebagian anak kurang memberikan perhatian kepada ibu. Hari Ibu juga menjadi pengingat bahwa waktu bersama ibu tidaklah abadi. Selagi ibu masih ada, kesempatan untuk berbakti masih terbuka lebar. Jangan menunggu sampai kehilangan untuk menyadari betapa berharga kehadirannya. Rasa cinta dan syukur bukan hanya diungkapkan melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan sehari-hari.
Maka pada peringatan Hari Ibu ini, marilah kita meneguhkan kembali niat untuk mencintai dan menghormati ibu dengan sepenuh hati, berbuat baik dan mendoakannya setiap hari. Semoga setiap langkah hidup kita menjadi wujud bakti dan rasa terima kasih kepada sosok mulia yang telah membesarkan kita dengan cinta dan doa yang tak pernah putus. Selamat Hari Ibu untuk seluruh ibu hebat, pahlawan kehidupan yang kasih sayangnya tak pernah putus.

